Kisah Buruk Tidak Selalu Berdampak Buruk, Review Buku Explore Enjoy & Repeat

Jika kita melihat tulisan atau unggahan di media sosial yang berkaitan dengan travelling, biasanya yang ditampilkan adalah pengalaman yang menarik, foto yang indah, makanan yang lezat, dan suasana yang membuat orang lain tergoda untuk ikut berkunjung ke sana. Tak jarang unggahan tersebut malah membuat pembaca iri atau cemburu pada orang yang travelling. Hal yang berbeda saya temukan ketika membaca buku Explore Enjoy & Repeat karya Yani Lauwoie. Penulis buku ini berani menuliskan kisah-kisah yang tidak selalu manis, seperti umumnya buku-buku travelling. Kisah yang dialami penulis buku ini mungkin getir, namun dampaknya memberikan kesiapan bagi para traveller yang hendak melakukan perjalanan, baik di dalam maupun di luar negeri. Hal inilah yang menjadikan buku ini unik dan memiliki nilai lebih dibandingkan dengan buku travelling lainnya.

Di bawah ini adalah  informasi buku Explore Enjoy & Repeat.

Judul Buku : Explore Enjoy & Repeat (Catatan Perjalanan dari 20 Negara).
Penulis : Yani Lauwoie
Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan : ke-1, September 2019
Jumlah Halaman : 204 halaman
ISBN : 978-6020-520179

Traveller yang bepergian ke luar negeri rentan mengalami gegar budaya, terutama bila negara yang dikunjungi tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Gegar budaya juga dialami oleh penulis buku ini. Kisah yang menarik yaitu ketika penulis buku ini hendak menanyakan jam beroperasi kereta terakhir dari Barcelona City Centre menuju Mollet. Petugas stasiun yang ditanya tidak bisa berbahasa Inggris, sedangkan penulis buku ini pun tidak bisa berbahasa Spanyol. Segala cara telah dicoba oleh penulis buku ini, mulai dari berbicara secara berulang, perlahan, juga ditambah dengan kode-kode isyarat, namun petugas tersebut tidak dapat menangkap maksudnya. Karena tidak tahu harus bagaimana lagi, penulis buku ini menggunakan bahasa Indonesia. “Pulang. Kereta pulaaaang,” kata penulis buku ini sambil menggerakkan tangan seperti melompat ke kanan dan ke kiri. Ajaibnya petugas tersebut mengerti maksud penulis buku ini. Tahu gitu, pakai bahasa Indonesia saja dari tadi. (halaman 4-6).

Gegar budaya lainnya yang dialami oleh penulis buku ini yaitu sistem penyewaan loker di Berlin dan self service di supermarket Melbourne yang membingungkan, check in hotel dan kopi Starbucks yang harus dibuat sendiri di Copenhagen. Penulis buku ini juga menemukan restoran KFC yang unik di Praha karena harus memasukkan kode yang tertera di dalam struk pembelian sebelum bisa masuk ke toilet. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika pengunjung sedang dalam kondisi terdesak, namun toilet tidak kunjung terbuka karena tidak mengerti cara memasukkan kodenya.

Pelajaran lain yang saya tangkap dari buku ini yaitu pentingnya untuk selalu berhati-hati dan teliti sejak dari tahap persiapan travelling. Syarat dan ketentuan yang berlaku ketika melakukan pemesanan hotel ataupun transportasi perlu dibaca baik-baik dan ditaati. Kelalaian terkait hal tersebut dapat berakibat fatal, seperti yang dialami oleh penulis buku ini. Karena tidak membaca ketentuan jam buka resepsionis apartemen yang dipesan di Paris, Ia nyaris tidak dapat masuk ke apartemen. Ia juga terpaksa mengeluarkan uang ekstra sebesar 55 pounds karena melakukan check in di bandara Edinburgh untuk pesawat Ryan Air. Pembayaran itu tidak perlu dilakukan seandainya check in dilakukan secara online. Sayangnya, email pemberitahuan terkait hal tersebut terlewat, tidak terbaca.

Meskipun persiapan sudah dilakukan sebaik mungkin, kejadian tidak terduga masih saja mungkin terjadi. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan mental untuk menghadapinya. Penulis buku ini mengisahkan kekecewaannya ketika harus mengikhlaskan mimpinya tidak tercapai, meskipun sudah di depan mata. Kalimat yang diungkapkan olehnya dalam menghadapi hal tersebut sangat menggugah saya. Ia berkata,

“Saat itu, saya tidak tahu apa yang Dia siapkan untuk saya tapi saya yakin itu pasti yang terbaik. Bahkan ketika Dia memutuskan untuk tidak mengabulkan doa saya untuk mengunjungi Irlandia, saya yakin itu bagian dari rencana terbaik-Nya untuk saya. Saya tidak seharusnya meragukan rencana-Nya.” (halaman 83).

Desain sampul buku ini menarik, warna latarnya merah dikombinasi dengan putih sehingga terkesan cerah. Gambar yang menghiasi sampul juga menarik, membuat saya membayangkan bahwa itulah gambaran penulisnya. Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis buku ini ringan, mengalir sehingga enak dibaca.

Buku Explore Enjoy & Repeat ini berisi kumpulan kisah yang dapat dibaca secara acak. Pengalaman yang diceritakan oleh penulisnya sangat membantu pembaca apabila suatu saat menemukan situasi serupa. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan foto untuk menguatkan cerita. Sayangnya foto yang dilampirkan tidak berwarna sehingga tidak terlihat warna aslinya.

Bagi saya buku ini sangat penting untuk dibaca oleh para traveller untuk memperkaya persiapan, juga menguatkan mental dalam melaksanakan perjalanan.

 

Salam,

Tita

 

10 comments
10 likes
Prev post: Menguak Misteri Tewasnya Harlan Thrombey, Review Film Knives Out

Comments

  • Eaters

    Februari 27, 2020 at 5:50 pm
    Reply

    Buku ini kayaknya bagus buat jadi referensi untuk orang yang baru mau mulai traveling ke luar negeri seperti saya.

  • Dian Restu Agustina

    Februari 27, 2020 at 4:08 pm
    Reply

    Wah buku keren jadi ingat banyak hal karena beberapa tempat di atas sudah saya kunjungi. Banyak cerita menarik memang saat traveling. Saya waktu di Paris, sewa […] Read MoreWah buku keren jadi ingat banyak hal karena beberapa tempat di atas sudah saya kunjungi. Banyak cerita menarik memang saat traveling. Saya waktu di Paris, sewa apartemen, kunci cuma ditaruh di mailbox, kita diminta masuk sendiri. Unit ada di lantai 3, hanya ada tangga...Nah pintu ga mau terbuka sama sekali. Dengan berbagai cara. Dua anak sudah rewel. Sementara si pemilik (atau agensinya mungkin) ga mau angkat telpon (mungkin ga mau angkat HP saat kerja)...di WA belum dibaca. Hampir sejam kami di depan pintu nunggu keajaiban. Akhirnya ada penghuni di lantai atasnya turun, kebetulan dari wajahnya ras Asia (entah Korea atau Jepang). Suami minta tolong..dan klik kebuka deh pintunya..haha, ternyata ada triknya mereka..hadeh. Akhirnya 3 hari di situ lancar buka tutupnya. Hingga pulang kunci ditaruh ,ailbox lagi hihi..Ga ketemu orangnya sama sekali Read Less

  • Dewi adikara

    Februari 27, 2020 at 3:42 pm
    Reply

    Wah, banyak cerita unik yang tidak kita pahami ya jika belum membacanya. Rasanya saat membaca review, Dewi jadi nambah ilmu. Seru banget cara penulis dalam […] Read MoreWah, banyak cerita unik yang tidak kita pahami ya jika belum membacanya. Rasanya saat membaca review, Dewi jadi nambah ilmu. Seru banget cara penulis dalam mengulas cerita travellingnya.... Read Less

  • Bety Kristianto

    Februari 27, 2020 at 3:15 pm
    Reply

    Woo seruuuu ya kalo cerita kek gini dituliskan dan dibaca kembali. Tapi kebayang deh nek pas ngalamin hal-hal yang diceritakan itu hehehehe. Bisa mules-mules deh. […] Read MoreWoo seruuuu ya kalo cerita kek gini dituliskan dan dibaca kembali. Tapi kebayang deh nek pas ngalamin hal-hal yang diceritakan itu hehehehe. Bisa mules-mules deh. Hehehe... Thks reviewnya mba! Read Less

  • Wiwid Vidiannarti

    Februari 26, 2020 at 2:01 pm
    Reply

    Kebayang ya, mbak, pas kebelet terus nggak bisa masukin kodenya dan aaah #ambyar hahaha Kreatif banget penulisnya, bisa menyajikan dalam sudut pandang lainnya.

    • tita
      to Wiwid Vidiannarti

      Februari 26, 2020 at 2:07 pm
      Reply

      Hahaha... iyaa, saya juga mikirnya begitu. Ambyarrr deh wkwkwkkk..... Beener banget, Mbak, kreatif banget penulisnya. Kisah-kisah seperti itu penting banget kan diceritakan, biar pembaca lainnya tahu […] Read MoreHahaha... iyaa, saya juga mikirnya begitu. Ambyarrr deh wkwkwkkk..... Beener banget, Mbak, kreatif banget penulisnya. Kisah-kisah seperti itu penting banget kan diceritakan, biar pembaca lainnya tahu dan bisa belajar dari pengalaman penulis bukunya :) Read Less

    • Wiwid Vidiannarti
      to tita

      Februari 27, 2020 at 10:14 am
      Reply

      Iya. Biasanya kebanyakan penulis selalu mengulas dari sisi seneng-senengnya aja. Menginspirasi sekali jadinya ...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *