Cita-citaku Ketika Kanak-Kanak

Kali ini saya ingin cerita tentang cita-citaku ketika kanak-kanak.

Mulai dari TK sampai SMU, cita-cita saya yang pertama tidak berubah yaitu ingin menjadi dokter spesialis anak. Alasannya sederhana yaitu karena sejak kecil, saya cenderung sakit-sakitan dan bolak-balik periksa ke dokter spesialis anak. Saya masih ingat dokter spesialis anak langganan kami namanya dr. Zainal. Kesan yang saya tangkap waktu itu, Pak dokter pinter bangeeet, baik lagi, ingin deh saya seperti beliau. Sejak itu, terpatri di ingatan saya bahwa kalau saya besar, saya ingin jadi dokter spesialis anaak seperti beliau.

Ketika lulus SMU, mulailah kegalauan melanda. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Kondisi finansial kami tidak mencukupi bila saya kuliah di jurusan kedokteran. Seandainya pun bisa, kemungkinannya adalah saya bisa kuliah di kedokteran tetapi adek saya tidak punya kesempatan untuk kuliah karena tidak ada biaya. Waaah, ga mau donk saya kalau itu sampai kejadian. Kasihan adek saya. Maunya kan kami berdua sama-sama bisa kuliah dan lulus dengan baik.

Penguatan saya dapatkan ketika mengikuti bimbingan belajar di Gereja Mahasiswa Bandung. Pengajarnya adalah kakak-kakak mahasiswa di berbagai perguruan tinggi yang ada di Bandung. Saat itu saya dipertemukan dengan Mbak Rosma, mahasiswa fakultas kedokteran Unpad angkatan 98. Beliau menceritakan realita kehidupan mahasiswa kedokteran dan setelah lulusnya seperti apa. Saya masih ingat Mbak Rosma bilang agar saya berpikir matang-matang. Kuliah di kedokteran itu butuh biaya besar dan waktu pendidikannya lama. Mahasiswa berjuang agar menjadi sarjana kedokteran, kemudian koas, PTT, hingga akhirnya memperoleh izin untuk praktek dokter umum. Setelah itu, jika ingin menjadi dokter spesialis maka butuh biaya yang lebih besar dan waktu pendidikan yang lebih lama lagi. Ini mah kalau saya lakoni bisa-bisa adek saya yang usianya terpaut 3 tahun di bawah saya lulus duluan. Hiii… nggak mau ah, gini-gini juga pengen ngerasain jadi kakak yang bisa ngasih uang jajan ke adeknya dari uang hasil kerja sendiri. Maka, bulatlah sudah keputusan saya untuk tidak mendaftar di fakultas kedokteran. Terima kasih banyak ya, Mbak Rosma, Mbak Anjar, dan segenap pengajar Bimbel Gema yang sudah membantu saya 🙂

Kegalauan berikutnya adalah ketika mau mendaftar SPMB. Saya pilih jurusan apa, ya? Saya tidak menyiapkan jurusan cadangan, jadi bingung deh harus pilih apa. Di saat-saat itu, pertolongan Tuhan datang tak terduga. Tiba-tiba teman-teman SMP saya yang bersekolah di SMF (Sekolah Menengah Farmasi) datang, main ke rumah. Mereka bercerita tentang pengalaman mereka selama sekolah di Farmasi. Farmasi itu ternyata menarik juga, ya? Dekat lagi sama bidang ilmu kedokteran, sama-sama tentang kesehatan namun dari sudut yang berbeda. Akhirnya, mantaplah saya memilih jurusan Farmasi. Puji Tuhan, atas kemurahan-Nya, saya diizinkan untuk kuliah di jurusan Farmasi di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung hingga lulus pendidikan profesi Apoteker.

Saya tidak menyesal tidak jadi dokter, malah bersyukur atas kehidupan saya yang sekarang. Saya percaya dan yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Rencana-Nya indah pada waktunya. Pertolongan-Nya selalu ada dengan cara yang mungkin tidak kita duga.

Saya ingin berterima kasih kepada orang tua, saudara-saudara, guru-guru, teman-teman, dan semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dan berperan menjadikan saya ada seperti sekarang.

Salam,

Tita Mintarsih

0 comments
0 likes
Prev post: Horeee…. Blog Baru Euy :DNext post: Burung Dara Goreng Terang Bulan

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *